Our Blog

Blog Posts

Antara Value, Branding, dan Strategi Marketing

12 October on Artikel Lepas  

Saya belajar dari kuliah telegram mengenai pentingnya menyampaikan value dalam produk/jasa bisnis kita.

Pebisnis harus bisa memahami value dan harapan dari konsumennya. Kadang kita salah membaca hal tersebut. Sehingga tidak bisa memberikan solusi yang tepat.

Atau pernah terjadi, pebisnis salah menerjemahkan value yang diharapkan klien. Dan hal ini menyebabkan jadi gagal branding karena salah mengkomunikasikan produknya.

Saya pernah mendengar presentasi pengusaha karpet di Turki, yang menarik, dia menggunakan pendekatan berbeda soal harga.

Dia lebih Memilih frase “Affordable” ketimbang “Cheap”. Lalu menggunakan frase “Valuable” daripada “Expensive”.

Baginya, value yang diharapkan customer sebenarnya bukan harga, tapi sesuai kebutuhannya. Sehingga dia bisa menjual barang yang tepat sesuai kebutuhan konsumennya.

Fenomena Diet Mayo

Saya termasuk yang heran ketika banyak kelas menengah yang mau keluarkan uang untuk diet mayo. Dan sebenarnya gak murah juga. Sebenarnya apa sih yang diharapkan?

Setelah ditelisik, ternyata value yang diharapkan adalah sehat. Dan untuk mendapatkannya, si konsumen rela merogoh kocek yang gak sedikit. Padahal, gak istimewa banget juga sih menu yang disajikan dalam diet Mayo.

Namun di sisi lain, ada value lainnya yang disisipkan, praktis. Iya, ternyata konsumennya juga gak mau repot. Jadi saat ada layanan Diet Mayo, dalam benaknya adalah Sehat dan Praktis (walau tidak ekonomis).

Sandal dan Baju harus mahal?

Tidak selalu produk yang mahal itu pasti nyaman. Dan tidak semua orang memikirkan brand dari produk yang akan dibelinya, sepanjang dia mendapatkan valuenya tadi, nyaman.

Maka tak heran ketika ada seorang istri dari CEO digital startup yang menjadi viral kisahnya tentang pemilihan pakaian yang dikenakannya. Dalam hal pakaian pun, value nyaman dan sederhana menjadi penting baginya.

Pelajaran yang bisa diambil adalah, strategi memenangkan konsumen bukanlah di perang harga, tetapi pada value dan solusi yang diberikan.

Saya pun melihat digital agency rela repot membuat brand baru untuk menggarap UKM atau pebisnis yang belum melek digital. Tujuannya, agar bisa membuat paket harga yang lebih ekonomis dan bisa di-customize, menyesuaikam kebutuhan kliennya.

Hal ini tidak bisa dilakukan saat si digital agency menggunakan brand utama yang menjual paket ekslusif. Jangan sampai gagal branding karena salah dipahami publik.

Ada yang bilang, mending Jual Mahal daripada jadi Murahan 😅.

Makin Spesifik

Saya belajar, untuk mengkomunikasikan sebuah brand, makin spesifik dan niche akan makin baik. Dan tentunya, makin fokus dan bijak juga dalam menyusun strategi marketingnya.

Bahkan ada yang melakukan spin off (baca: pemisahan) perusahaan karena unit bisnisnya bisa menjadi satu perusahaan baru yang bisa lebih berkembang ketika bergerak mandiri dan fokus.

Begitu juga dalam industri jasa hukum. Brand positioning juga punya peranan penting untuk menentukan target market, strategi marketing dan pricing policy.

Alhasil saya memilih untuk memisahkan brand dari law firm saya. Bahkan mengajak sinergi mitra bisnis (kantor lainnya) ke dalam jaringan profesional hukum saya. Tujuannya, agar klien tidak susah mendapatkan jasa hukum sesuai kebutuhan dan value yang diharapkan. One Stop Legal Solution. Tinggal pilih mau yang mana 😊

Pernah dalam satu malam saya closing mendapatkan klien yang setuju legal fee 1 Milyar dengan brand BP Lawyers, secara offline. Namun dengan brand SMART Legal Consulting, melalui optimasi digital marketing, closing melalui telepon sebesar 50juta. Lain lagi pengalaman menggunakan brand lainnya.

Namun pernah juga beri advis dan dibayar 1,5juta karena membaca artikel lawas saya di strategihukum.net setelah googling keyword “perdata jadi pidana” dan “Karyawan Menjadi Direktur.” Kadang google tren tidak bisa jadi acuan juga untuk menentukan kemana arahnya big fish ini, hehe.

Value, branding dan marketing seakan tidak bisa dilepaskan. Masih banyak yang harus dipelajari untuk berikan solusi terbaik dan bermanfaat.

Al fakir yang masih belajaran.

Bimo Prasetio

Founder SMART Legal Network

bimoprasetio.com

back-sln

 

Bimo Prasetio adalah Creative Legalpreneur pendiri SMART Legal Network dan Co Founder Qoloni.com, suatu Qolaborative platform untuk membantu proyek sosial. Dalam perjalanan karirnya, Bimo memiliki pengalaman menangani berbagai transaksi dan sengketa komersial. Bimo juga mengkampanyekan gerakan Legal4UKM dan UKM Melek Hukum yang sekarang dikelola oleh BPL Foundation agar startup dan UKM melek hukum. Bimo dapat dihubungi: info@smartlegalnetwork.com

Comments are closed.