Our Blog

Blog Posts

Baik, Benar dan Kepentingan

12 October on Artikel Lepas  

Menjadi Islam karena mengucap syahadat.. Berhaji dan umroh karena panggilan Allah dan ada biaya untuk kesana (baik biaya sendiri ataupun ada yang membiayai). Sampai sini apakah berarti sudah cukup dikatakan baik dan benar? Ternyata tidak, ukurannya adalah ketakwaan.

img_1823Ukuran ketakwaan bukan karena sekedar Islam dan sudah haji atau umroh.
Bukan pula menunjukkan ketakwaan dengan menyitir hadits atau ayat setelah googling.

Ketakwaan ditunjukkan dengan penundukkan diri kepada Allah dan ketaatan terhadap ajaran Rasulullah SAW tanpa memilih mana yang sesuai dan tepat dengan kondisinya saat ini.

Kalau bicara soal baik, terkait budaya, ukurannya salah satu adalah dimana kita berada. Misalnya, membayarkan uang ke kasir di SG haruslah langsung ke tangan petugas kasir, di Indonesia tidak harus demikian. Boleh saja diletakkan di meja lalu diambil.

Kalau soal menghardik, caci maki, berkata-kata kotor, berkata bohong, sudah merupakan hal yang secara universal dipahami sebagai perbuatan tidak baik. Sulit rasanya ketika akal mengatakan, “Itu biasa aja dan baik-baik saja.”

Ternyata meyakini kebenaran itu mudah, menerima kebenaran tersebut yang kadang harus melihat kepentingan. Apakah setiap yang benar itu jadi tidak baik?

Ini adalah cerminan value atau nilai dari setiap pribadi. Baik dalam bisnis maupun kehidupan keseharian, value ini yang akan melekat terus.

Cintailah sesuatu secara proporsional.

Bencilah sesuatu secara proporsional.

Agar kelak, tidak akan sakit hati jika ternyata harapan beda dengan kenyataan.

Bagi yang Muslim mencintai sesuatu selayaknya karena Allah. Dan membencinya juga karena Allah. Takwa.

Astaghfirullah, apalah awak ni, bicara random di pagi hari menasihati diri sendiri. Waktunya saya Muhasabah, introspeksi diri.

Teringat nasihat guru saya, pelajarilah ajaran Islam agar kita lebih paham. Sehingga kita bisa memahami dalil dan penafsiran yang salah. Ternyata masih cetek sekali ilmu saya.

Saatnya mendengarkan dan mengkaji lebih jauh. Agar jangan sampai kelak semua lisan yang harus dipertanggungjawabkan ini malah membawa ke arah yang salah. Jangan karena kepentingan saat ini malah terperosok di akhirat nanti.

Bersabar, menahan diri, fokus pada energi yang positif, jauhkan diri dari energi negatif. Banyak impian dan kerja untuk orang banyak ke depannya. Penting untuk jadi lebih produktif.

Bimo Prasetio

Sabtu pagi di luar rutinitas…..

@Bprasetio

bimoprasetio.com

Bimo Prasetio adalah Creative Legalpreneur pendiri SMART Legal Network dan Co Founder Qoloni.com, suatu Qolaborative platform untuk membantu proyek sosial. Dalam perjalanan karirnya, Bimo memiliki pengalaman menangani berbagai transaksi dan sengketa komersial. Bimo juga mengkampanyekan gerakan Legal4UKM dan UKM Melek Hukum yang sekarang dikelola oleh BPL Foundation agar startup dan UKM melek hukum. Bimo dapat dihubungi: info@smartlegalnetwork.com

Comments are closed.