Our Blog

Blog Posts

Belajar Leadership dari Mama

03 July on Artikel Lepas  

Kalau sekarang aktif di berbagai organisasi, jadi gak heran karena (almarhum) bapak dan mama juga aktivis organisasi. Mulai sejak di kampus ITS mereka sudah aktif. Lalu saat ini, mama juga jadi ketua organisasi tingkat nasional.

Kalau sedang di Indonesia, kerjanya keliling daerah untuk memberikan workshop dan ujian. Sehingga tidak di setiap weekend bisa bertemu mama. Kadangpun di rumahnya, ternyata sedang menandatangani ribuan sertifikat/ijasah karena disyaratkan dari Kemendiknas untuk tandatangan basah, tidak boleh menggunakan stempel tandatangan 

Saat di Melbourne, karena tinggal di rumah kakak, jadi serasa sedang di rumah. Dan sejak pagi sudah menghiasi dapur untuk menyiapkan makanan untuk anak-anaknya. Ya, salah satu kesukaan dan kebahagiaan mama adalah memasak untuk anak-anaknya.

Seperti pagi ini, kami di hotel sudah di WA dan ditanya terus jam berapa ke rumah kakak untuk sarapan. Sampai adik saya, Cita Prahastuti bilang sudah 10x ditanya sampainya jam berapa karena mau dimasakkan. Mama ingin makanannya masih hangat dan fresh saat akan disantap. Pagi ini bikin nasi goreng, sop merah, ayam, sosis dan tempe goreng. Kemarin saja sempet masak krengsengan dengan segala keterbatasan bumbu di sini.

36252556_10155410005131604_332517308654157824_n

“Mama seneng kalo makan bareng, timbang nang Nandos terus, opo tuku,” ujarnya.

Mama memastikan semua anak-anak dan cucu kebagian makanan semuanya, setelahnya baru mama makan. Kalau misalnya ada yang kurang makanannya, mama akan bilang, “Mama gak makan ayam, enakan tempe.”

Ya seperti itulah mama mengajarkan kebahagiaan pada anak-anaknya. Suatu teladan yang harus dilanjutkan. Kalau Simon Sinek bilang, “Leaders eat last,” mama yang gak pernah baca buku itu sudah menerapkannya.

Saat di usianya yang 68 tahun, semua anak-anaknya selalu berusaha membahagiakannya. Mengajak pergi bareng di dalam atau luar negeri, umroh, kumpul, makan bareng dan memberikan uang ke mama tiap bulan walau mama tidak pernah meminta.

Mama gak senang kalo diam saja, rasanya tidak produktif kalau diam saja. Jadi ada saja yang dikerjakan.

Dulu waktu kuliah sempat merasa bersalah banget karena IP Nasakom selama 3 semester berturut-turut. Rasanya gagal dan sulit bangkit. Tapi mama yang menjadi motivasi selalu. Bagaimana bisa membahagiakan beliau kalau keadaan menyedihkan begini. Alhamdulillah, setelah itu nilai akademik membaik, aktifitas organisasi dan basket juga membawa prestasi, termasuk ketika masuk delegasi Indonesia program kepemudaan ke Korea.

This is how great leaders inspire everyone to take action.

“You were there for me to love & care for me
When skies were gray
Whenever I was down
You were always there to comfort me

And no one else can be
What you have been to me you will always be
You will always be the girl
In my life for all times” Song for Mama – Boyz 2 Men.

Terima kasih mama dan seluruh ibu di penjuru negeri yang telah memberikan cinta, sayang dan kebahagiaan kepada semua anak untuk belajar menjadi pemimpin.

Salam hormat,
Bimo Prasetio

Founder Smart Legal Network

Bimo Prasetio adalah Creative Legalpreneur pendiri SMART Legal Network dan Co Founder Qoloni.com, suatu Qolaborative platform untuk membantu proyek sosial. Dalam perjalanan karirnya, Bimo memiliki pengalaman menangani berbagai transaksi dan sengketa komersial. Bimo juga mengkampanyekan gerakan Legal4UKM dan UKM Melek Hukum yang sekarang dikelola oleh BPL Foundation agar startup dan UKM melek hukum. Bimo dapat dihubungi: info@smartlegalnetwork.com

Comments are closed.