Our Blog

Blog Posts

Kekuatan “First Who then What”

02 July on Artikel Lepas   Tags: , ,

“Kadang kita tidak tahu apa yang dibutuhkan dalam tim kita, hingga kehadiran seseorang memberikan peran yang ternyata dibutuhkan.”

Dalam banyak perjalanan suatu perusahaan, orientasi dalam mencapai goal tentunya adalah menetapkan visi dan misi dahulu. Sehingga, ketika melakukan perekrutan karyawan orientasi berpola pada target saja.

Menyinggung sedikit tentang perekrutan karyawan, saya sangat terinspirasi dengan prinsip “First Who then What” yang dituangkan dalam buku Jim Collin “Good to Great”.

Untuk mencari orang yang tepat kadang butuh perjalanan panjang dan berliku untuk mendapatkannya. Ada yang menyadari ternyata orang yang diperlukan dalam organisasi nya adalah teman dekatnya.

Tapi tidak selalu kerabat atau teman baik yang kita kenal lama, merupakan orang yang tepat untuk tim kita. Ada pimpinan perusahaan Head Hunteryang saya temui malah terus melakukan interview utk menemukan orang yang “tepat”, sekalipun tidak ada posisi yang lowong.

Bahkan beberapa perusahaan memberikan tawaran kerja kepada seseorang, padahal belum ada kebutuhan di organisasinya, karena nalurinya mengatakan, “dia orang yang tepat”

Banyak CEO perusahaan Good to Great (saya mengistilahkan demikian) meyakini bahwa sedahsyat apapun strategi perusahaan jika dijalankan oleh SDM yang tidak “pas” dan minim kualitas, tidak akan berhasil.

Seperti Apa Orang yang Tepat?

Sering kita dengar, “Karyawan adalah aset”, padahal itu tidak sepenuhnya benar. Hanya orang yang tepat yang merupakan aset.

Apakah karyawan yang malas, sering bikin onar adalah orang yang tepat? Hanya karyawan yang bagus atau yang tepat lah yang merupakan asset perusahaan. Karyawan yang bagus, tidak perlu dimotivasi berlebihan, cukup diarahkan dan dididik.

Sedangkan karyawan yang tidak bagus, akan merepotkan kita dlm memotivasi dan mengontrolnya. Deskripsi karyawan yang bagus adalah penilaian dari perbuatannya: jujur (tersulit membuktikannya), etos kerja tinggi, tulus, dan sebagainya.

Teddy P. Rachmat, salah satu pebisnis sukses di Indonesia, memaparkan 3 hal yang harus diperhatikan ketika merekrut karyawan. Dari segi tingkat kepentingannya, sebagai berikut:

  1. Karakter
  2. Passion
  3. Talenta atau kompetensi

 
Karakter ini merupakan fondasi. Karakter yang kuat tercermin dalam perkataan dan tindakan serta pikiran dan perbuatan. Karakter yang baik tercermin dari nilai kejujuran, tanggung jawab, kesabaran, kesederhanaan, rendah hati, kepedulian terhadap orang lain.

Nilai-nilai seperti itulah yang akan mengantarkan seseorang pada kesuksesan dan kemuliaan. “Jadilah orang yang sukses mulia”, begitu yang selalu didengungkan Pak Jamil Azzaini.

Passion dalam bekerja

Soal passion juga merupakan hal yang penting. Jika karyawan tidak memiliki passion dalam pekerjaannya, alhasil dia akan mengerjakan sesuatu seperti rutinitas dan tidak ada nilai lebihnya. Berikut saya sarikan dari Buku “Pembelajaran Teddy P. Rachmat.”

Teddy P. Rachmat bahkan pernah berujar, “Carilah pegawai yang setiap Jumat malam menyesal karena besoknya libur dan setiap minggu malam tak sabar menunggu hari Senin”. Terdengar gila dan tidak masuk akal sepertinya ya, hehe.

Dalam buku the Why of Work, Dave Ulrich mendorong pemimpin membangun organisasi yang mampu memberi makna bg pekerja. Dave menyebut organisasi ini seperti organisasi berkelimparuahan (abundant organization).

Dalam organisasi ini, lingkungan dan suasana membuat karyawan mewujudkan aspirasi dan kerja totalitas. pada akhirnya menciptakan 3 elemen penting pekerjaan itu sendiri.

  1. Meaning bagi pekerja
  2. Value bagi stakeholders
  3. Hope bagi kemanusiaan

 
Alangkah luar biasanya jika karyawan bisa menjalani pekerjaan yang bermakna bagi dirinya dan orang lain secara luas. Menurut Teddy Rachmat , pendiri Astra, William Soeryadjaja berhasil membangun abundant organization. William memperlakukan karyawan dengan sikap penghargaan mendalam, tanpa pandang bulu.

Memahami “mengapa kita bekerja” jauh lebih penting daripada memikirkan “bagaimana kita bekerja”. Jika berhasil menemukan jawaban “mengapa kita bekerja”, itu awal yg baik utk melakukannya dengan Passion.

Tanpa Passion orang akan bekerja seadanya. Berbeda dengan yang bekerja dengan Passion Saat bekerja dengan Passion yang memotivasinya bukan soal gaji atau bonus, melainkan sikap positif dari hati.

Passion memotivasi orang untuk memberikan yang terbaik, terlepas dari apapun profesinya. Dengan Passion secara naluriah mereka akan terdorong mencari jalan keluar.

Mas Joddy Waroeng Steak, adalah salah satu pengusaha yang berhasil menggerakkan karyawannya untuk bisa bersedekah tanpa harus disuruh. Karyawan Waroeng Steak sudah mencapai pada mindset bisa menciptakan nilai bagi dirinya dan berarti bagi orang lain. Mas Joddy mengaku pencapaian itu bisa dilakukan dengan menerapkan spiritual company dalam bisnisnya, mengerjakan yang wajib dan merutinkan yang sunah.

Belajar dari Garuda

Pada 1998, pemerintah menunjuk seorang bankir untuk membenahi Garuda yang kala itu sedang terpuruk. Dialah Robby Djohan. Padahal dalam sejarah Garuda selalu dipimpin oleh orang Dirgantara.

Robby merumuskan 5 hal yang harus dibenahi, salah satunya adalah mengganti jajaran manajemen dengan orang-orang muda yang lebih bermotivasi. Hal ini dilakukan agar karyawan yang pesimis bisa kembali bangkit semangatnya.

Memang strategi jitu lainnya adalah menentukan “What” nya. Selain mengganti jajaran manajemen, dia merumuskan 4 hal lain, yaitu:

  1. Memperbaiki citra melalui On Time Performance
  2. Menutup rute-rute Eropa yang merugi
  3. Melobi perusahaa di Swiss untuk bantuan perawatan
  4. Menyiapkan pemimpin baru untuk masa depan Garuda

 
Restrukturisasi Robby ini terbilang sukses dan memperbaiki citra Garuda dan terlebih lagi dalam waktu 1 tahun Garuda meraup keuntungan sebesar US$60juta.

Mencari Orang yang Tepat

Mas Jaya Setiabudi pernah mengatakan, saran terbaik untuk mendapatkan orang yang BAGUS adalah dari referensi orang yang terpercaya! Tapi bukan berarti harus berhubungan saudara kandung. Integritas seseorag teruji dengan “waktu dan kejadian”. Jadi ada baiknya berikan mereka yang ‘pahit-pahit saat masih trainee.

Seorang teman di ASTRA malah mengungkapkan kepada saya tentang proses rekrutmen yang dilaluinya. Untuk 1 minggu pertama materi training yang diberikan adalah mengenai “Apa itu ASTRA”. Selanjutnya pembekalan tentang value perusahaan (disiplin, integritas, doa dan hymne). Tujuannya untuk mencapai mindset dan mentalitas yang baik. Baru di minggu selanjutnya materi tentang tugas dan peranan mereka dalam organisasi ASTRA.

Kalau saya lebih termotivasi bagaimana menciptakan karyawan agar bisa “menyanyikan lagu yang sama” dengan penuh semangat dan passion. Ya, kurang lebih seperti pendukung Liverpool ketika bersama-sama menyanyikan lagu “You’ll Never Walk Alone”. Dengan penuh penghayatan dan kebersamaan para Liverpudlian (pendukung The Reds) membawakan lagu “wajib” tersebut tanpa komando.

Bagaimana dengan anda? Selamat mencari orang yang tepat.

Salam,
Bimo Prasetio
@BPrasetio

Bimo Prasetio adalah Creative Legalpreneur pendiri SMART Legal Network dan Co Founder Qoloni.com, suatu Qolaborative platform untuk membantu proyek sosial. Dalam perjalanan karirnya, Bimo memiliki pengalaman menangani berbagai transaksi dan sengketa komersial. Bimo juga mengkampanyekan gerakan Legal4UKM dan UKM Melek Hukum yang sekarang dikelola oleh BPL Foundation agar startup dan UKM melek hukum. Bimo dapat dihubungi: info@smartlegalnetwork.com

Comments are closed.