Our Blog

Blog Posts

Ketika Ego Jatuh di Kaki Merbabu

04 May on Artikel Lepas  

Ini adalah kali kedua ikut naik gunung. Sebelumnya tahun 2015 dalam pendakian perdana, Alhamdulillah ikut mencapai puncak Rinjani. Kali ini bersama teman-teman dalam pendakian Merbabu, yang tidak lebih tinggi dari Rinjani.

Kami menempuh rute Swanting, dan turun melalui rute Selo. Pengkondisian untuk perjalanan ini tidak terlalu maksimal, jadi mengandalkan sisa-sisa main basket di minggu-minggu sebelumnya. The show must go on.

Perjalanan dimulai ba’da Ashar sekitar jam 16.30 dan akhirnya mencapai pos 3 pada pukul 01.00 dini hari. Lanjut makan malam dan melanjutkan istirahat.

Esok hari kami mendaki ke puncak dalam waktu kurang lebih 1,5 jam. Sehingga total mencapai puncak 11 jam. Usai mendokumentasikan pencapaian, kami langsung turun karena punya target jam 5 sore harus sudah berangkat ke airport.

Dengan penuh suka cita dan semangat juang tinggi setelah mencapai puncak Merbabu, dalam hati saya ingin menyegerakan sampai di bawah, kembali ke basecamp untuk mandi, makan, shalat dan istirahat sambil menunggu penjemputan ke bandara.

photo_2018-05-04_15-29-57

Disinilah mulai berkecamuk ego untuk menantang diri agar bisa sampai lebih cepat. Dengan sedikit berlari, saya mencapai basecamp kurang lebih 4,5 jam. Orang kedua di rombongan yang tiba di basecamp. Rasanya senang, namun di sisi lain sebenarnya di sepanjang perjalanan turun, kaki saya minta istirahat, tapi tetap dipaksakan.

Alhasil, usai mandi dan berbenah, tiba-tiba kedua kaki saya keram luar biasa dan tidak bisa berdiri, apalagi jalan 😭😭😭.

Sampai akhirnya bersusah payah dibantu teman-teman untuk bisa wudhu, hingga dipapah ke mobil. Bahkan terjadi insiden saat akan turun dari pesawat, baru berdiri sebentar dari kursi, kaki saya tidak berkompromi dan saya pun tumbang, luluh lantak…. Ya Allah…

Alhamdulillah setelah istirahat 2 hari sudah kembali pulih.

Akhirnya saya belajar, setiap ingin mencapai target memang ego diri harus ditinggalkan. Kontrol diri harus ada. Yang pasti memang harus tahu diri lah. Hanya karena biasa main basket tidak berarti punya otot yang kuat dan sanggup menyelesaikan perjalanan lebih cepat.

Hidup memang penuh pembelajaran. Dan saya bersyukur belajar lagi….

Salam,

BP
(Berproses itu Pasti)

Bimo Prasetio adalah Creative Legalpreneur pendiri SMART Legal Network dan Co Founder Qoloni.com, suatu Qolaborative platform untuk membantu proyek sosial. Dalam perjalanan karirnya, Bimo memiliki pengalaman menangani berbagai transaksi dan sengketa komersial. Bimo juga mengkampanyekan gerakan Legal4UKM dan UKM Melek Hukum yang sekarang dikelola oleh BPL Foundation agar startup dan UKM melek hukum. Bimo dapat dihubungi: info@smartlegalnetwork.com

Comments are closed.