Our Blog

Blog Posts

Kompetensi Diri Sebagai Bekal Ke Akhirat

02 July on Kajian   Tags: , ,

“Diciptakan manusia semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT.”

Dalam bab beribadah kadang ditafsirkan secara sempit bahwa ibadah itu soal shalat, puasa, haji dan mengaji. Padahal kerja dan belajar juga bisa menjadi ibadah, jika dilakukan dengan berorientasi pada akhirat.

Orang yang berorientasi pada akhirat bukan berarti mengisolasi diri dari dunia. Misalnya tidak bermuamalah dan hanya berdiam diri di dalam mesjid.

Justru seharusnya menggunakan dunia untuk bekal ke akhirat nanti.

Apakah kalau hanya mengaji saja dijamin masuk surga? Apakah yang hanya berbisnis saja akan mendapatkan kekayaan?

Jawabnya BELUM TENTU. Karena semuanya atas kehendak Allah.

Coba lihat Surat Al-Isra 18 – 20.

18. Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.

19. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu’min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.

20. Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu [849] Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.

Ingat, perjuangan Khalid Bin Walid dalam berbagai penaklukan semata-mata untuk menegakkan agama Allah di muka bumi. Oleh karena itu, gunakan kemampuan kita sesuai kapasitas dan kompetensi kita. Misalnya yang guru ya melalui pengajaran kepada muridnya. Betapa sayang kalau sarana mengajar tidak dijadikan ladang dakwah kepada murid-muridnya.

Biasanya ada yang meninggalkan dunia karena merasa gagal mendapatkan dunia.

Ada yang merasa sudah cukup utk hidup dgn gaji 5juta. Sehingga tdk perlu mengembangkan potensi diri.

Tanamkan dalam diri kita, orientasi hidup kita bukan hanya untuk diri kita pribadi. Tapi juga untuk orang lain.

Kalau bisa bersyukur dengan gaji 5juta, Alhamdulillah, kenapa tidak berpikir untuk mendapatkan 100juta sehingga 95juta digunakan untuk membantu yang lain.

Asal jangan ketika bisa mendapatkan 100juta kebutuhannya berubah menjadi 95juta ya, hehe.

Di samping itu, jika kita melihat Surat Al-Ashr, semua orang itu rugi, kecuali yang beriman dan beramal soleh.

Artinya, tidak hanya berorientasi soleh secara pribadi, tapi secara berjamaah.

Sebagai refleksi pada diri dan profesi saya sebagai lawyer, saya sempat berpikir untuk mundur karena frustasi dengan praktik mafia peradilan.

Saya sempat berpikir untuk mundur dan menjalankan bisnis yang lain. Namun, seorang guru mengingatkan saya akan hal di atas tadi, khususnya tentang kompetensi.

Kenapa tidak menggunakan kompetensi yang ada sebagai media dakwah dan menjadikan alat sebagai bekal ke akhirat?

Masya Allah, itu seperti cambuk keras bagi saya. Saya sudah menyerah dan mundur sebelum berjuang menegakkan agama Allah dalam profesi saya.

Kini sudah saya tekadkan diri untuk menggunakan keahlian sebagai lawyer guna menjadi bermanfaat bagi orang lain. Mohon doanya agar saya beristiqomah dalam menjauhkan diri dari hal-hal yang dzalim dalam dunia hukum.

Serta gerakan @Legal4UKM dapat menjadi wasilah dan jalan menuju surganya Allah SWT. Dapat mengajak banyak lawyer lainnya untuk berbagi ilmu dan menebar manfaat bagi umat.

Wasalam,
Bimo Prasetio

@Bprasetio
www.bimoprasetio.com
www.legal4ukm.com

Bimo Prasetio adalah Creative Legalpreneur pendiri SMART Legal Network dan Co Founder Qoloni.com, suatu Qolaborative platform untuk membantu proyek sosial. Dalam perjalanan karirnya, Bimo memiliki pengalaman menangani berbagai transaksi dan sengketa komersial. Bimo juga mengkampanyekan gerakan Legal4UKM dan UKM Melek Hukum yang sekarang dikelola oleh BPL Foundation agar startup dan UKM melek hukum. Bimo dapat dihubungi: info@smartlegalnetwork.com

Comments are closed.