Our Blog

Blog Posts

Pemimpin & Keputusan yang Tidak Populer

27 November on Artikel Lepas  

Film Draft Day yang diperankan oleh Kevin Costner, Chadwick “Black Phanter” Boseman dan sederet aktor lainnya, adalah salah 1 film favorit saya, karena banyak insight soal leadership.

Penonton dibawa untuk ikut merasakan ketegangan jelang pengambilan keputusan Sony Weaver Jr, seorang GM Cleveland Browns dalam merekrut pemain baru (rookie) untuk meningkatkan performa team.

Di saat yang sama, persoalan lain juga menerpanya. Semua punya deadline dan keputusan harus segera diambil.

Alih-alih merekrut Bo Calahan, pemain rookie berbakat, Quarterback yang menjanjikan, Sony malah melepas opsi itu dan memilih pemain lain. Tak pelak keputusan ini mengundang amarah dan penolakan dari pelatih Browns serta sejumlah official staff lainnya. Tentu keputusan ini bukan tanpa pertimbangan. Dia melihat ada sesuatu yang tidak beres dalam pribadi Bo.

photo_2018-11-27_11-10-23

Namun di akhir cerita, semua baru memahami keputusan Sony. Dan keputusan tersebut membahagiakan semuanya. Tidak hanya mendapatkan 2 first draft rookie, Sony mendapatkan hak atas future rookie lainnya atas trade yang dilakukannya.

Memang menjadi pemimpin itu berat, harus mengambil keputusan yang tidak bisa menyenangkan semua orang. Karena pemimpin bukan tukang ice cream.

Semua sering khawatir dan berkata, “Bagaimana kalau gagal?,” namun seorang pemimpin berpikir, “Bagaimana kalau ini berhasil dan membahagiakan semuanya?”

Bagaimanapun juga, pemimpin yang mengambil keputusan. Dia harus siap jika berhasil ataupun gagal. Dan pastinya, jika gagal maka pemimpin yang harus bertanggung jawab atas keputusannya.

Semua anggota tim yang terlibat berhak memberikan pandangan dan pertimbangannya, namun keputusan ada pada pemimpin.

Baik dalam organisasi ataupun bisnis hal ini berlaku sama. Sejatinya semua bisnis berisi organisasi di dalamnya (kecuali yang masih perorangan dan kerjakan semuanya sendirian). Jika punya sikap yang tidak setuju dengan keputusan pemimpin, itu boleh saja. Tetap harus disadari, suka atau tidak, bukan anda yang akan bertanggungjawab jika terjadi kegagalan. Maka, ikuti keputusan pemimpin, gak boleh baper.

Kalo masih baper, berarti tidak siap berorganisasi dan cenderung merasa selalu benar. Ini cerminan sikap negatif karena akan selalu blamming, excuse dan denial.

Bagi saya film ini menarik dan mencerahkan walau IMDB beri rating 6,8/10. Enjoy the movie gaes…

Bimo Prasetio
Founder Smartlegal.id

Bimo Prasetio adalah seorang lawyer dan entrepreneur. Dalam perjalanan karirnya, Bimo memiliki pengalaman menangani berbagai transaksi bisnis dan sengketa komersial. Bimo juga mengkampanyekan gerakan Legal4UKM dan UKM agar startup dan UMKM melek hukum. Bimo dapat dihubungi: bimoprasetio@gmail.com

Comments are closed.